Kalau Anda menemui sumber-sumber informasi soal IMD dan ASI EKsklusif di internet, tapi Anda curiga karena informasinya harus melalui berbagai persyaratan dulu, saya sarankan sebaiknya Anda berhati-hati.
Selain blog ini, Anda bisa temui mungkin ratusan sumber info lain yang ada di internet, baik dalam bentuk blog, maupun web. Kalau Anda tertarik dengan miling list, ada salah satu miling list besar tentang ASI dan IMD, di milis asiforbaby yang menyediakan forum untuk bertanya dan saling bertukar pengalaman. Mungkin banyak lagi forum yang kami tidak tahu, tetapi juga punya semangat yang sama.
Untuk Anda para ayah dan ibu, jangan beranggapan bahwa informasi berbayar itu lebih kredibel. Milis, adalah salah satu sumber info yang sangat kaya pengalaman, dan di dalamnya juga ada para ahli yang ikut terlibat. Mereka melakukannya secara sukarela, dan semata-mata karena ini menyangkut kehidupan yang lebih baik.
Sekarang adalah era dimana media bukanlah lagi saluran komunikasi satu arah. Tidak ada lagi konsumen media, yang ada adalah prosumen, PRODUSEN dan KONSUMEN sekaligus. Kita sedang berada di era Media 2.0, dimana pengguna adalah juga sumber informasi. Kata kuncinya adalah Partisipasi.
Anda, saya, dan semua pengunjung adalah sumber informasi berharga. Kita adalah sumber informasi yang mungkin akan menyelamatkan banyak nyawa di masa depan. Berpartisipasilah!
*DISCLAIMER: Blog ini, dan juga halaman di FB, sama sekali tidak berafiliasi dengan kegiatan pengumpulan dana apapun. Blog ini kami dedikasikan untuk para calon ibu, dan para ibu muda, yang masih berkesempatan mempraktekkan IMD dan ASI EKsklusif, demi generasi baru yang lebih cerdas dan sehat.
Dari Kompas Cetak, ada artikel menarik menjelang Hari Gizi. Ditulis oleh Oleh LUKI AULIA, terbit hari Senin, 4 Januari 2010 | 03:19 WIB.
”Ayo ibu-ibu! Jangan tidur-tiduran saja di rumah. Tanam sayur-sayuran di kebun. Pisang setandan jangan dimakan sendiri ya,” begitu seruan Katherine Mera, kader posyandu dari Kecamatan Lasiola, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang memancing tawa dan tepuk tangan puluhan orang. luki aulia Senyum pun tersungging di bibir para juri di hadapan Mera, salah satu peserta lomba penyuluhan di acara ”Jambore Kader PKK dan Posyandu Kabupaten Belu” di halaman rumah dinas Bupati Belu, Desember lalu. Mendapat sambutan meriah, Katherine Mera lega dan tersenyum lebar.
Sesuai tema yang didapat, Khaterine Mera harus menyampaikan materi penyuluhan mengenai gizi. Meski dengan terbata-bata dan sesekali terdiam karena lupa, pesan yang disampaikan Mera jelas. Orangtua, terutama kaum ibu, harus peduli dan memerhatikan kebutuhan gizi untuk dirinya, terutama anaknya, dengan mengolah bahan pangan yang tersedia dengan sederhana, tetapi kreatif. Tidak perlu makanan berbahan mahal, seperti daging, ayam, atau telur, yang penting kandungan gizinya seimbang. Bisa saja memasak jagung, ubi, sayur bayam, dan sup dengan lauk tempe atau tahu.
Kepedulian orangtua menjadi faktor penentu kondisi gizi anak. Bahan makanan yang berlimpah di rumah tidak akan ada gunanya jika tidak diolah dengan baik oleh ibu atau anggota keluarga yang lain. Apabila ini terjadi, tak heran jika anak mengalami kekurangan gizi, bahkan gizi buruk. Apalagi jika anak hanya diberi makanan seadanya atau malah makanan ringan untuk menipu perut agar kenyang.
”Gizi buruk terjadi karena anak kurang perhatian dari orangtua. Anak telantar dan kebutuhan gizi tidak diperhatikan karena orangtua lebih sering di kebun. Bukan karena tidak ada makanan di rumah,” kata Rambu, bidan di Puskesmas Wedomu, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu.
Tidak sadar
Orangtua kerap tidak sadar anaknya kekurangan gizi karena, kata Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Belu Theresia MB Saik, anak yang kekurangan gizi masih bisa beraktivitas normal dan lincah sehingga mereka kemudian ditinggal ke kebun dan dititipkan kepada saudara, orangtua, atau mertua. ”Setiap ibu pasti ingin anaknya sehat, tetapi karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit dia harus ikut membantu mencari nafkah. Perhatian kepada anak jadi berkurang, termasuk bagaimana memasak dan memberi makan yang tepat,” kata Theresia.
Pola perilaku pemberian makan kepada anak, terutama pasca-ASI eksklusif 0-6 bulan, penting karena usia 2-3 tahun termasuk masa kritis rentan gizi buruk. Pada umumnya kondisi gizi anak usia 6 bulan hingga 1 tahun masih bagus, tetapi setelah berusia satu tahun biasanya banyak yang kekurangan gizi. ”Di atas 1 tahun biasanya ASI mulai kurang, sementara makanan tambahan tidak memadai asupan gizinya,” kata Theresia.
Untuk memenuhi kebutuhan gizi anaknya yang berusia 8 bulan, Meriana (36) membuat bubur, sayur bayam, dan pisang sebagai makanan tambahan pendamping ASI. Pekerjaan suaminya yang serabutan tidak memungkinkan keluarga itu membeli telur, apalagi daging yang harganya di atas Rp 60.000 per kilogram. Untuk menyiasati kebutuhan gizi anaknya, Meriana menanam sayur-sayuran, ubi kayu, dan pisang di kebun.
Minim pemahaman
Tidak diolahnya bahan makanan dengan baik, menurut ahli nutrisi Unicef, Sonia Blaney, karena minimnya pemahaman jenis makanan bergizi berikut cara mengolahnya. Sonia menekankan tidak ada hubungan antara gizi buruk anak dan faktor ketersediaan pangan karena sepanjang tahun 2008 tidak dilaporkan gagal panen, kekurangan bahan pangan, atau bencana alam di NTT.
Kepala Bagian Kesehatan Unicef Anne Vincent menambahkan, penyebab gizi buruk sangat kompleks, bukan hanya masalah kekurangan pangan. Akses pada bahan pangan, pelayanan kesehatan, dan pola perilaku pemberian makanan yang bergizi ikut berpengaruh.
”Ketiadaan ibu yang memberikan ASI dan menyiapkan makanan pendamping ASI karena sibuk bekerja di kebun serta minimnya kesadaran menjaga kebersihan diri dan lingkungan juga berpengaruh,” ujarnya.
Sayangnya, malnutrisi selama ini selalu diasosiasikan dengan tidak adanya makanan sehingga ketika terjadi malnutrisi, respons pemerintah setempat adalah meminta bantuan makanan. ”Dari temuan lapangan, anak kurang gizi meninggal bukan semata-mata meninggal karena kurang gizi, tetapi karena memang sudah sakit dan tidak ditangani dengan baik oleh tenaga kesehatan sehingga kondisinya makin buruk,” kata Anne.
Untuk mengurangi dan mengantisipasi gizi buruk, menurut ahli nutrisi Unicef Indonesia di NTT, Helena Seran Ndolu, metode yang digunakan tak bisa lagi hanya dengan penyuluhan, tetapi juga pendampingan sejak kehamilan, inisiasi menyusui dini (IMD), ASI eksklusif 0-6 bulan, dan pemberian makanan pendamping ASI.
”Kalau dengan penyuluhan saja, tidak akan ada perubahan perilaku. Ini perlu waktu. Tidak bisa cepat. Yang penting bidan atau tenaga kesehatan bisa sabar, tidak menyuruh-nyuruh, dan mau mendengar sekaligus menggali informasi dari masyarakat,” kata Helena.
Sumber co-pas: Kuncinya, Kepedulian Orangtua
Jakarta, Menyusui adalah kegiatan yang sangat alamiah ketika seorang wanita baru melahirkan. Namun tidak semua wanita dapat menyusui anaknya dengan lancar, bahkan ada yang tidak bisa menyusui karena payudaranya tidak berfungsi dengan benar.
Menjelang kehamilan, tubuh Anda secara alami akan mempersiapkan diri untuk menyusui. Anda pun tidak perlu repot-repot memberi perawatan ekstra.
Namun jika kulit Anda tergolong sensitif atau puting Anda tidak bisa keluar dan tersembunyi dalam payudara, Anda pun mau tak mau harus melakukan sesuatu agar si calon bayi tidak kesulitan meminum ASI dari payudara Anda.
Seperti dikutip dari eHow, Kamis (30/7/2009), ini dia tips yang bisa dilakukan sebelum bayi Anda lahir dan Anda pun dapat menyusui dengan lancar.
1. Beri pijatan lembut dan beberapa tetes kolustrum pada bagian puting setiap harinya. Mulailah beberapa minggu sebelum Anda melahirkan.
2. Berikan krim lanolin pada daerah di sekitar puting, lakukan beberapa kali setiap harinya untuk menenangkan daerah payudara yang terasa sakit dan melembutkan kulit setelah mulai menyusui.
3. Usahakan agar penutup bra yang Anda gunakan khusus menyusui (nursing bra) tetap terbuka agar payudara Anda mendapat udara dan oksigen yang cukup.
4. Jika Anda mempunyai masalah dengan puting yang masuk ke dalam payudara atau puting Anda tidak keluar menjelang melahirkan, konsultasikanlah dengan ahli laktasi.
5. Ikuti grup-grup menyusui menjelang kehamilan Anda untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang masa-masa menyusui atau pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan sebelum melahirkan.
6. Dapatkan buku yang bagus tentang menyusui dan bacalah menjelang kelahiran sehingga Anda akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan ketika anak Anda lahir.
Selamat Mencoba.
Sumber: Menyusui Lancar, ASI Tokcer







